Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa dalam Perayaan Imlek 2565/2014

22 Jan 2014

Perayaan Tahun Baru Imlek 2565 di Kota Surakarta pada tahun 2014 ini akan menampilkan perpaduan aneka budaya masyarakat Jawa dan Tionghoa, meskipun tetap menonjolkan budaya Tionghoa peninggalan leluhur Negeri Cina. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Panitia Bersama Perayaan Imlek (PBPI) 2565/2014, Tanu Kismanto, di Kantor Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kota Surakarta, (21/1/2014)

Kemasan tersebut, menurut Pejabat humas  Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), Sumartono Hadinoto merupakan refleksi pembauran dan asimilasi warga keturunan Tionghoa dengan masyarakat Jawa asli Solo yang secara alami berlangsung berabad-abad. Seperti di kampung Balong dan Kepanjen. Karena pada waktu Indonesia perang melawan Belanda, kami para warga keturunan Tionghoa bersama warga lain juga ikut berjuang. menurut Sumartono, kebudayaan Tionghoa yang sudah menjadi bagian dari kebudayaan nasional Indonesia juga perlu dilestarikan. Setelah era Orde Baru, katanya, setiap perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Solo, warga Tionghoa selalu didukung warga masyarakat lain sehingga budaya Tionghoa menjadi budaya inklusif, di antaranya yang sudah delapan kali digelar adalah Festival Gerebeg Sudiro menjelang tahun baru Imlek.

Selain itu juga Panitia Bersama Perayaan Imlek akan menyosialisasikan astrologi khas China di Sepanjang Jalan Jendral Sudirman, tepatnya di depan Benteng Vastenburg. Sosialisasi tersebut berupa pemasangan neon box berisi keterangan singkat mengenai astrologi asli China, Shio. Dan  pembuatan neon box ini baru pertama kali di lakukan. karena Sebelumnya tidak pernah ada.

Menurut rencana, neon box tersebut akan dipasang malam ini menjelang peresmian Solo Imlek Festival. Dalam neon box tersebut, akan dicantumkan daftar shio serta tahun-tahun yang termasuk di dalamnya. Tak lupa, karakteristik terkait shio-shio itu juga akan diterangkan dalam neon box itu. Dengan harapan ke depan nantinya masyarakat bisa tahu yang lahir tahun ini termasuk shio apa? Karakternya bagaimana?” kata Tanu.

Sementara itu, Humas PMS, Sumartono Hadinoto, menambahkan, pemasangan neon box tersebut merupakan salah satu upaya agar kebudayaan Tionghoa bisa lebih diterima masyarakat secara luas. Informasi mengenai shio diharapkan dapat melengkapi kekayaan budaya Nusantara. Karena menurutnya semua kebudayaan hampir sama. Orang Jawa mengenal wuku dan weton, di Eropa ada zodiak, di China juga ada Shio,” kata Sumartono.

Selain neon box, panitia juga sudah menyiapkan lampion raksasa berbentuk 12 shio. Masing-masing lampion memiliki tinggi sekitar 2,5 meter. Khusus untuk shio kuda, ukurannya dibuat sedikit lebih besar karena tahun ini yang merupakan tahun 2565 imlek merupakan tahun kuda.

Acara perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Solo tahun 2014 ini juga bertambah meriah dengan  adanya "Solo Imlek Festival" (SIF), berupa pameran berbagai produk dan pentas seni yang dipusatkan di Benteng Vastenburg sisi utara Alun-alun Utara Keraton Surakarta, bertujuan lebih mengenalkan produk dan budaya Tionghoa kepada masyarakat luas.

Rencananya, SIF yang akan digelar selama sepekan dari 23 - 29 Januari 2014, diikuti 88 peserta stan pameran, di antaranya kuliner, otomotif, kerajinan, elektronik, panggung hiburan, busana, pentas musik tradisional,atraksi barongsai dan liong, fengshui, fortune teller dan berbagai atraksi lainnya. Selain pertunjukan berbagai kesenian Thionghoa termasuk Wayang Potehi, kata Tanu, di panggung terbuka SIF akan dipentaskan karya seni yang dinamakan "Karerkim", yakni kolaborasi seni karawitan Jawa dengan seni erhu dan kim khas Tionghoa.

 

Kategori Berita: